Opium, Subur di Tengah Konflik dan Kemiskinan

source: pixabay.com

Sejarah Opium/Candu
Di dalam sejarahnya, Candu dikenal masyarakat Jawa sejak abad 17 ketika Pemerintah Kolonial Belanda menjadikan candu sebagai salah satu komoditas perdagangan mereka. Pakar candu Henri Louis Charles Te Mechelen menyatakan ,"satu dari 20 masyarakat jawa menghisap candu", sebagaimana tercatat dalam buku Opium toJawa karya James R. Rush. Sebagaimana diketahui Henri Louis Charles Te Mechelen merupakan Inspektur Kepala Regi Opium dan Asisten Residen Yuwana di wilayah Jawa Tengah masa itu.

Dikutip dari Wikipedia, Opium atau candu adalah getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah candu (Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum) yang belum matang. Opium merupakan tanaman semusim yang hanya bisa dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Tinggi tanaman hanya sekitar satu meter. Daunnya jorong dengan tepi bergerigi. Bunga opium bertangkai panjang dan keluar dari ujung ranting. Satu tangkai hanya terdiri dari satu bunga dengan kuntum bermahkota putih, ungu, dengan pangkal putih serta merah cerah. Bunga opium sangat indah hingga beberapa spesies Papaver lazim dijadikan tanaman hias. Buah opium berupa bulatan sebesar bola pingpong bewarna hijau.


Opium di Kawasan Asia Tenggara
Di kawasan asia tenggara, Myanmar menyumbang produksi tertinggi opium. Menurut Survei Opium Myanmar 2018 yang dirilis UN Office on Drugs and Crime (UNODC) bahwa area penanaman opium poppy di Myanmar turun menjadi 37.300 hektar (ha) pada tahun 2018, turun 10% dari 41.000 ha yang dicatat pada tahun 2017.

Pengurangan dalam budidaya telah terjadi di hampir semua wilayah, tetapi telah paling signifikan di Shan Selatan dengan penurunan 17% dan Negara Kachin dengan penurunan 15%, diikuti oleh Shan Timur dan Shan Utara menurun 8% dan 7%. 
Dengan hasil rata-rata 14 kg per ha pada 2018 total produksi opium turun dari 550 menjadi 520 metrik ton, setara dengan sekitar 53 ton heroin yang ditujukan untuk pasar obat domestik dan regional. 
Laporan survey itu menegaskan kembali hubungan antara konflik dan candu di Myanmar.
Budidaya opium tertinggi terus berlangsung di daerah yang tidak stabil di negara bagian Shan dan Kachin.

Troel Vester, Country Manager UNODC, mencatat bahwa "kemiskinan dan penanaman opium di Myanmar berhubungan erat. Daerah pertanian opium yang buruk membutuhkan keamanan yang lebih baik dan alternatif ekonomi yang berkelanjutan."

Namun demikian penurunan penanaman opium bukan sesuatu yang menggembirakan, karena sesuai data bahwa penurunan juga di akibatkan pasar obat regional yang berubah secara dramatis. Opium dan heroin telah menurun selama beberapa tahun terakhir karena negara-negara di Asia Timur dan Tenggara telah beralih terhadap obat-obatan sintetis dan terutama metamfetamin.

 
Wakil Menteri Dalam Negeri Jenderal Aung Thu mengakui bahwa upaya lebih lanjut akan diperlukan untuk secara efektif mengatasi produksi opium, heroin dan obat-obatan lainnya di Myanmar.

Dia berkomentar bahwa "Pemerintah Myanmar senang melihat penurunan lebih lanjut dalam penanaman opium, tetapi kami juga setuju bahwa masih banyak yang harus dilakukan, dan kami akan terus mendukung program-program yang memberikan alternatif yang layak untuk opium.
Kami juga akan bekerja dengan negara tetangga dari MOU Mekong, ASEAN dan UNODC tentang strategi bersama untuk mengatasi produksi dan perdagangan obat-obatan terlarang dan bahan kimia pendahulu di wilayah kami. "

Miwa Kato, Direktur Operasi UNODC, menekankan pentingnya inisiatif pengembangan alternatif berkelanjutan dan kerja sama regional, "Myanmar telah mengambil langkah-langkah penting untuk mengatasi penanaman opium, terutama di Shan Selatan di mana kami menjalankan program pengembangan alternatif besar bersama-sama, dan kami menyadari bahwa mempertahankan dukungan akan sangat penting dalam jangka pendek dan menengah.
Pada saat yang sama dimensi regional tidak dapat disangkal, dan solusi harus melibatkan negara-negara di sekitarnya dan mitra internasional, dan kami akan mendukung dengan program regional kami. "
Dia berkomentar lebih lanjut, "produksi narkoba dan konflik sering berhubungan, dan kami akan meningkatkan partisipasi kami dalam upaya PBB yang mendukung perdamaian berkelanjutan."

Bagaimana dengan ganja di Aceh?
Persoalan yang dihadapi sangat identik dengan kondisi Opium di Myanmar saat ini. Variabel kondisi berupa konflik (masa lampau) dan kemiskinan menjadi faktor pencetus tumbuh suburnya ladang-ladang ganja di pedalaman. Oleh karena itu diperlukan langkah konperehensif untuk menuntaskannya.